Friday, March 30, 2012

Berharap Kepada Allah swt.



Hasan bin Ali r.a. berada di dalam kesulitan ekonomi yang sangat pelik. Gaji (ratib) sebanyak 100.000 dinar setiap tahunnya yang ia peroleh dari baitulmal ditahan oleh Muawiyah r.a.[1] selama dua tahun. Ia benar-benar berada di dalam keadaan ekonomi yang sulit.
Hasan menuturkan, “Aku lalu memanggil seseorang untuk menulis surat kepada Muawiyah agar mengingatku. Tetapi, aku tidak jadi melakukannya. Kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. Beliau berkata, ‘bagaimana kabarmu, wahai hasan?’
‘Baik, wahai kakek,’ jawabku.
Lalu aku mengeluh kepada beliau tentang keterlambatan harta yang seharusnya kuterima. Beliau berkata, ‘Kamu memanggil seseorang untuk menulis surat kepada seseorang sepertimu untuk mengingatkan hal itu?’
Aku menjawab, ‘Iya, wahai Rasulullah. Apa yang bisa aku lakukan?’
Beliau berkata, ‘Bacalah doa,

اللهم اقذف في قلبي رجائك عمن سواك, حتى لا أرجو أحدا غيرك, اللهم وما ضعفت عنه قوتي, وقصر عنه عملي, ولم تنته اليه رغبتي, ولم تبلغه مسألتي, ولم يجر على لساني, مما أعطيت أحدا من الاولين والاخرين من اليقين, فخصني به يارب العالمين.

‘Ya Allah buanglah segala pengharapanku di hatiku kepada selain Engkau hingga aku tidak berharap kepada selain Engkau. Ya Allah, apa yang tidak bisa kuraih dengan kekuatanku, tidak bisa aku kerjakan dengan baik, tidak bisa aku gapai, tidak dapat aku raih dengan dayaku, tidak bisa kudapatkan dengan perkataanku, apa yang telah Engkau berikan kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang masa kini sebuah keyakinan maka berikanlah kepadaku, wahai Tuhan semesta alam.’
Setelah selama seminggu aku berdoa dengan doa itu, Muawiyah mengirimkan utusan kepadaku dengan membawa 1.500.000 dinar. Aku berkata, ‘Segala puji bagi Allah. Zat yang tidak melupakan orang yang mengingat-Nya, tidak melupakan orang yang berdoa kepada-Nya.’
Kembali aku bertemu dengan Nabi di dalam mimpi. Beliau berkata, ‘Hasan, bagaimana kabarmu?’
Aku berkata, ‘Baik, wahai Rasulullah,’ Lalu aku menceritakan kepada beliau apa yang terjadi kepadaku. Beliau berkata, ‘Begitulah nasib orang yang berharap kepada Sang Pencipta dan bukan meminta kepada makhluk.’”


[1] Pada saat itu ia menjadi khalifah, Amirul Mukminin.
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

Untuk membangun perkembangan pengetahuan penulis, saya harapkan bagi para pengunjung untuk memberi saran yang membangun.

 
;